Mau Merdeka Nggak? Nanya mulu’!

Setiap hari kemerdekaan, banyak orang masih bertanya ‘Sudah Merdeka kah Kita?’ Lagi-lagi masih bertanya. Kok senang sekali sih bertanya? Yang di sana menjawab ‘Ih, suka-suka gue dunks mau nanya kek, mau jawab kek, namanya juga bebas!’

Ow wait….Kalimat ini : ‘Ih, suka-suka gue dunks mau nanya kek, mau jawab kek, bebas dunks!’ – menandakan adanya apa ya? Ada kebebasan kan? Ada kemerdekaan kan untuk berbuat suka-suka? Lalu, kenapa masih bertanya ‘Sudah Merdeka kah Kita?’

Terus terang, setiap membaca tulisan atau diskusi dengan topik itu saya bosan. Kenapa sih selalu mempertanyakan kemerdekaan di saat bertanya soal apakah kita merdeka atau belum saja– sudah leluasa?

Jika ada orang yang merasa dirinya belum merdeka, pasti semua itu karena dirinya sendiri. Pasti? Saya sok tahu ya? Tapi mari kita sama-sama coba renungkan.

Manusia lahir dan mati dalam keadaan sendiri. Di dalam diri setiap manusia sudah ada jiwa yang setiap saat dapat membawa arah kehidupannya. Jiwa yang bebas akan selalu merasa ringan untuk melakukan apapun, sedangkan jiwa yang tak bebas, akan merasa selalu punya penghalang untuk melakukan apa yang dimau, alias ia sendiri yang membuat dirinya tak bebas melakukan apa pun.

Dalam hidup selalu ada norma-norma yang harus dipatuhi. Secara khusus di Indonesia, ada norma kehidupan dalam bermasyarakat. Sebagai bagian dari masyarakat, tentu saja kita terikat pada norma-norma tadi. Norma berfungsi sebagai pedoman dan pengatur dasar kehidupan seseorang dalam bermasyarakat untuk mewujudkan kehidupan antar manusia yang aman, tentram dan sejahtera. Ada norma agama, kesusilaan, kesopanan, dan hukum. Norma-norma inilah yang membatasi gerak-gerik dan perilaku setiap manusia di Indonesia. Sekali lagi, setiap manusia! Oleh karenanya, di saat hari ini kita bisa bebas melakukan hal-hal yang tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, kita sudah bisa menikmati kemerdekaan itu!

Salah satu kemerdekaan yang sangat mudah diraih adalah ‘kemerdekaan berpikir’. Untuk berpikir tak ada larangan apapun yang bisa menjerat kita dengan hukuman. Adakah seseorang yang dihukum karena berpikir? Tidak ada kan? Padahal di situ lah letak pengaturan kekuatan terbesar dari semua kemerdekaan yang hendak kita raih. Jika jaman dahulu orang menjadi sulit berpikir karena selalu berada dalam tekanan penjajah, nyatanya masih banyak juga yang berhasil membebaskan pikirannya untuk dapat merebut kemerdekaan bangsa ini.

Tetapi di jaman sekarang ini, justru banyak manusia malas untuk berpikir. Kemerdekaannya untuk berpikir tidak dimanfaatkan dengan baik. Seolah-olah semua hal akan selesai tanpa meluangkan waktu untuk berpikir. Karena malas berpikir, akhirnya asal saja mengeluarkan pendapat dan bertindak. Akibatnya, apa yang disampaikan atau dilakukannya, tidak selalu sejalan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sampai di sini mereka teriak “Sudahkah Kita Merdeka?” – Nah lho!

Jika ada aturan-aturan atau hukum yang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat secara keseluruhan, itu juga akibat kemerdekaan berpikir. Kemerdekaan berpikir milik para penguasa. Apakah masyarakat merasa terbelenggu oleh akibat dari kemerdekaan berpikir para penguasa? Jika ya, maka yang terjadi adalah pemberontakan seperti yang sering terjadi di masa-masa kini. Tetapi ada hal penting yang patut dicatat dari pemberontakan itu. Mereka tidak lagi bertanya, mereka bertindak! Kemerdekaan berpikir masyarakat telah menyadarkan mereka bahwa hak-hak mereka dilanggar, oleh karenanya mereka harus melakukan sesuatu. Anyway, itu adalah contoh yang agak luas.

Jika kita mencoba mempersempit arti kemerdekaan berpikir ini dalam skala pribadi, kita dapat melihat bahwa beberapa orang begitu cerdas mempergunakan kemerdekaan berpikir mereka ini untuk meraih kemerdekaan-kemerdekaan lainnya. Kita coba ambil contoh satu track saja.

Kemerdekaan berpikir untuk menghasilkan uang bagi diri sendiri. Bagaimana caranya? Pakailah kemerdekaan berikutnya yaitu berkarya atau bekerja. Kita bebas untuk menentukan apakah kita akan membuat suatu karya untuk dijual, atau bekerja saja pada pihak lain. Selama hal-hal yang kita lakukan untuk mendapatkan uang tersebut tidak melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat, tentunya kita bebas menentukan sendiri. Setelah bekerja, kemerdekaan apa lagi yang  bisa dinikmati? Kemerdekaan untuk membuat keputusan mengenai bagaimana mempergunakan uang yang kita hasilkan untuk dipergunakan sesuai kebutuhan kita. Tentu saja kita bebas kan mempergunakan uang kita? Tentu saja! Selama kita menggunakannya untuk hal-hal yang tidak melanggar hak orang lain! *kalau kita mempergunakan uang yang kita hasilkan untuk meracik bom yang akan dipakai untuk membunuh orang lain, ya jelas saja tidak boleh! Jangan sampai berpendapat “Ah, nggak asik nih, kita kan cari duit sendiri, suka-suka kita dunks uangnya mau dipakai buat bikin bom untuk ngebunuhin orang! Wek!” *heu?

Jadi, menurut pendapat saya pribadi, sebelum kita bertanya lebih jauh dan menuntut sesuatu yang sebenarnya sangat jauh dari jangkauan kita, ada baiknya kita menyelesaikan dulu hal-hal yang ada di sekitar kita. Jika kita sudah selesai dengan hal-hal yang menyangkut kemerdekaan bagi diri kita sendiri yang tentu saja sampai saat ini masih dapat dipergunakan dengan leluasa, maka mempertanyakan kemerdekaan dalam skala yang lebih luas tentunya akan mempunyai dasar yang lebih kuat ketimbang asyik bertanya tapi juga tak memerdekakan diri sendiri. Kekuatan terbesar dalam diri manusia itu terdapat pada pikiran. Oleh karenanya, di saat kemerdekaan berpikir masih menjadi milik kita, manfaatkanlah itu sebaik-baiknya! ;)

 

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 66!

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>