Marah Mu, Cinta Mu, Terima Kasih!

Bagi orang lain ini mungkin sesuatu yang sederhana, sudah biasa. Tapi tidak bagi saya. Sesuatu yang kelihatannya kecil, justru seringkali membuat saya tersentuh. Ini bukan hal kecil. Pembelaan dari seseorang yang katanya sangat mencintai kita, adalah sesuatu yang menunjukkan bahwa cinta itu benar-benar ada. Pahlawan itu hadir selalu tanpa diminta.

Perempuan memang selalu mengidamkan pasangannya menjadi pahlawan dalam setiap langkahnya. Meski itu juga bukan berarti perempuan tak bisa jadi pahlawan bagi pasangannya, tetapi jiwa ksatria dan sikap yang ditunjukkan oleh laki-laki kepada pasangannya dan mengatakan bahwa “Saya selalu ada untuk kamu” dengan tindakan nyata, masih selalu menjadi idaman para perempuan sepanjang masa. Dan pernyataan saya ini tentu saja akan ditentang oleh para feminis aliran keras (batu kali keras *lol) karena mereka tentunya tak ingin laki-laki dianggap pahlawan.

Anyway, biarlah perdebatan soal pahlawan itu menjadi urusan yang ingin berdebat. Saya hanya ingin sedikit berbagi pandangan saja. Ini yang baru saya alami. Melihat bagaimana pasangan saya begitu marah mendengar cerita saya tentang kejadian yang saya alami dan reaksinya dalam membantu saya adalah sesuatu yang sangat langka saya dapatkan di masa-masa lalu saya. Sejujurnya, tak ada laki-laki dalam hidup saya sebelumnya yang benar-benar menjadi Pahlawan hati saya dan itu pun sempat membuat saya berpikir, saya tak butuh laki-laki. Tapi sebagai perempuan normal, tentu saja saya membohongi hati saya waktu itu. Saya tetap butuh laki-laki, tetapi bukan sembarang laki-laki dengan penisnya seperti yang selalu dibanggakan laki-laki berotak standard dan mesum.

Seperti biasa, waktu-waktu santai sepulang kerja adalah waktu berbagi cerita. Beberapa hari ini memang saya sedang mengalami kejengkelan yang amat sangat di kantor. Pada satu titik, pasangan saya yang tadinya hanya sebagai pendengar dumelan saya, lama-lama menganalisa apa yang sebenarnya terjadi. Dan di saat saya masih dalam keadaan kesal saja tanpa berpikir lebih jauh selain hanya berpikir bahwa seseorang yang belum paham sesuatu sedang berbuat sok pintar, pahlawan saya ini telah mencium gelagat busuk orang yang sedang berhadapan dengan saya. Well, itulah untungnya memiliki pasangan seorang ‘lawyer’ yang selalu cermat mengantisipasi sesuatu dan mencium bahaya.

Saya terkejut ketika di sela-sela saya bercerita tiba-tiba laki-laki ini dengan geramnya berserapah, “Bangsat nih orang! Dia mau mempermainkan orang untuk kepentingannya sendiri nih. Harus dihajar, Yang!”

Bukannya bertambah emosi, saya malah sempat khawatir bahwa dia akan bertindak sesuatu. Saya masih terdiam sejenak untuk memahami kenapa dia begitu emosi, harusnya kan saya yang marah, kenapa jadi dia lebih marah daripada saya? Lalu, berhamburanlah segala analisa dari mulutnya yang sempat membuat saya khawatir dengan perasaan saya sendiri. “Can we stop talking about this? It just reminded me how angry I am, and it’s not good for my health to be emotionally distracted all the times….,” pinta saya.

“Tapi ini harus diselesaikan. Jangan biarkan orang seperti ini membuat kacau apa yang sudah kamu baktikan pada organisasi itu!” tandasnya.

Hm… See? Saya jadi emosi lagi. Padahal tadinya saya sudah tenang menikmati ‘Angry Bird’. But he’s always my best Mentor.

Saya pun mulai mendengarkan dengan seksama langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan untuk memenangkan pertempuran ini. Semua kalimat dan petunjuknya saya camkan baik-baik di kepala saya. Amunisi sudah terisi penuh, tinggal bagaimana menembakkannya pada saat yang tepat. Tapi ini bukan hanya soal amunisi dan strategi, ini soal keberanian dan resiko yang akan dihadapi jika apa yang disarankannya ini saya lakukan. Tetapi uang tidak selalu menjadi hal utama bagi saya, pekerjaan akan selalu saya bisa dapatkan di mana saja, bukan hanya di tempat itu. Dan otak saya pun berpikir keras mengenai bagaimana menerapkan nasehat lawyer saya dengan cara lebih halus dan tidak harus frontal. Bagaimana pun saya juga punya preference sendiri untuk melakukan sesuatu dengan cara saya. Kombinasi pemahaman dasar atas suatu masalah dan strategi penyerangan pada waktu yang tepat adalah yang saya incar. Satu demi satu, selangkah demi selangkah, penuhi amunisi, pakai strategi, dan jangan pernah menyerah! Saat tiba waktunya hajar tanpa henti!

Ini seperti tinju ya? Tapi begitulah saya membayangkannya. Ini bukan hanya soal peperangan, tapi ini juga soal bagaimana mewujudkan kasih sayang. Marahnya adalah bentuk cinta yang nyata yang bagi saya lebih dari apa pun yang bisa diberikannya. Marahnya membuat saya mampu bertahan dari segala serangan luar dan membuat saya kuat untuk menghadapinya. Terima kasih, Diamond! You’re definitely my Lawyer, my Lover, my Hero!

Marah Mu, Cinta Mu, Terima Kasih!
2 Comments

  • enybodyhome Says:

    u are very lucky indeed. Itu yang kayak mas dwi, di dunia ada lagi ga sih mbak, stocknyah ? :P

  • mhimi Says:

    hhahha..eny, kalau masih ada stok lainnya gw juga mau..!

    anyway, mengenal pasangan ini..adalah satu berkah sendiri, jadi ngiri, jadi pengen juga segera punya pasangan tiap selesai baca kisah mereka, hihihihi

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>