“Gue NGGAK DISURUH Kok!”

Percaya atau tidak, hari ini saya mengalami dua peristiwa yang esensinya hampir sama. Ini soal bagaimana seseorang bertanggung jawab terhadap sesuatu yang sudah disetujuinya. Tanggung jawab. Definisi tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “kewajiban menanggung segala sesuatu”.

Ketika ada seseorang mengatakan : “Tidak ada kewajiban saya untuk memenuhi tuntutan itu” rasanya saya ingin percaya bahwa orang tersebut sangat sadar akan apa yang diucapkannya. Kewajiban itu berat memang, perlu kesadaran penuh untuk menjalankannya, bahkan saat kewajiban itu benar-benar menimbulkan konsekuensi lebih seperti misalnya saja terjerat kasus hukum karena tidak dipenuhi. Tapi sudahlah, tak perlu jauh-jauh berpikir soal terjerat kasus hukum, saya hanya ingin bicara hal sederhana yang seharusnya bisa dipahami dengan mudah.


Pagi ini seorang teman menyampaikan kekecewaannya karena ada prosedur yang terlewat pada proses pendaftaran merek yang dilakukan rekanan saya, karena alasan “tidak ada instruksi”. Padahal, sebagai seseorang yang butuh bantuan Konsultan HAKI, seharusnya memahami bahwa orang yang butuh bantuan untuk mendaftarkan mereknya, belum tentu paham prosedur pendaftaran, sehingga dengan tanggung jawabnya sebagai Konsultan HAKI, sudah seharusnyalah ia menerangkan dan menjabarkan proses yang akan dilalui dengan sejelas-jelasnya. Asumsi bahwa seorang klien sudah paham bahwa prosedur pengecekan harus dilakukan terlebih dahulu adalah asumsi pribadi yang tidak professional jika menilik posisinya sebagai Konsultan HAKI. Jadi, alasan “tidak ada instruksi” sangatlah tidak masuk akal.

Bagaimana seseorang bisa menginstruksikan orang lain untuk sesuatu hal yang dia tidak paham apa yang harus diinstruksikan?

Sedangkan definisi Konsultan HAKI menurut PP No. 2 Tahun 2005 adalah:

Orang yang memiliki keahlian di bidang Hak kekayaan Intelektual dan secara khusus memberikan jasa di bidang pengajuan dan pengurusan permohonan di bidang Hak Kekayaan Intelektual yang dikelola oleh Direktorat Jenderal dan terdaftar sebagai Konsultan Hak Kekayaan Intelektual di Direktorat Jenderal.

Dan Pasal 8.4 (c) menyebutkan:

Konsultan Hak Kekayaan Intelektual berkewajiban : c. memberikan pelayanan konsultasi dan sosialisasi di bidang Hak Kekayaan Intelektual, termasuk tata cara permohonan pengajuan di bidang Hak Kekayaan Intelektual.

*****

Lalu, di mana tanggung jawab pemberian pelayanan konsultasi dan sosialisasinya kalau hanya bisa mengatakan “tidak ada instruksi”? Hello???

Kejadian lainnya lagi, saya mendengar keluh kesah sahabat saya yang menjadi tumpuan kesalahan dan sindiran banyak blogger karena ia tidak mampu memenuhi janjinya untuk memberangkatkan sejumlah blogger seperti yang dijanjikan. Bahkan saat ia menyatakan bahwa yang bisa berangkat hanya ‘blogger asli’, definisi ini kembali dipertanyakan, “Jelaskan maksud atau definisi dari Blogger Asli itu apa?”

Blogger itu apa sih?

Definisi ‘BLOGGER’ bisa kita temui jika kita googling. Tetapi saya ingin merujuk satu saja. Menurut techopedia.com, definisinya adalah:

Blogger is a blog-publishing service created by Pyra Labs and owned by Google since 2003. Launched in 1999, Blogger was one of the first dedicated blog-publishing tools. Since it was acquired by Google, the Blogger platform has been integrated with other Google technologies such as Google Toolbar, Google Adsense and Google Docs. Blogger blogs are hosted by Google under the blogspot.com domain.

The term blogger may also be used more generally to refer to a person who maintains a weblog.

Sumber: http://www.techopedia.com/definition/5150/blogger

Sementara definisi dari BLOG itu sendiri adalah:

Blog or web log is a specialized site that allows individuals to share articles, stories, news and other forms of content. Blogs are usually similar to a daily journal and users can subscribe to blogs using some type of RSS Reader.

*****

Tentunya dari situ kita bisa melihat bahwa Blogger adalah seseorang yang melakukan aktifitas baik itu menulis artikel, cerita, berita, atau konten-konten lain pada weblog-nya. Jadi, Blogger itu ya secara sederhananya adalah orang yang suka melakukan posting pada blognya. Tentunya menjadi Blogger tak ada paksaan. Bahkan menulis pun tidak harus dengan paksaan. Tidak ada seseorang yang bisa menulis dengan baik kalau ia dipaksa. Saya setuju.

Sekarang, ketika seseorang yang memang senang menulis atau memposting sesuatu di blognya, kemudian diundang untuk suatu acara, dalam kapasitasnya sebagai Blogger, kira-kira apa yang diharapkan dari kehadirannya ya? Adakah suatu kebanggaan ketika seorang blogger diundang dalam acara khusus Blogger? Bukankah itu suatu pertanda bahwa eksistensinya di dunia blogging dikenal orang? Bangga kan seharusnya? Pasti bangga!

Jika kita mencoba melihat rekan-rekan dari Negara lain di ASEAN yang masih mengalami banyak restriction untuk bisa menulis di blog mereka, tidakkah kita sedikit merasa bersyukur bahwa sebagai Blogger kita begitu beruntung bisa menuliskan apa saja yang kita mau?

Dengan segenap kebebasan berekspresi yang demikian besar, haruskah ada blogger yang merasa terpaksa untuk menulis tentang acara yang mengundangnya dalam kapasitas sebagai BLOGGER dengan mengatakan “Tidak ada kewajiban untuk menulis posting tentang itu”?

Hello???

Tampaknya masih banyak belum sadar kalau dirinya benar-benar blogger sejati, sehingga mempertanyakan definisi “Blogger Asli” tetapi harus merasa terpaksa ketika menulis sesuatu yang sudah membuatnya dikenal dan diapresiasi di dunia blogging? Ini salahnya di mana ya? Jadi, meskipun blogger, harus ada tulisan “wajib menulis posting setelah acara usai”, begitu maunya?

Jika kemarin sebelum ditentukan siapa saja yang terpilih, lalu kemudian diberi persyaratan harus menulis postingnya di blog mengenai acara tersebut, mengingat lokasi konferensi yang sangat menarik, yaitu BALI, apakah berarti yang merasa tidak wajib ini akan menolak berangkat? Sementara masih ada 100 blogger lain yang mungkin saja punya jiwa yang lebih loyal dibandingkan yang ‘cuek’ ini?

Ow please!

Apakah harus selalu disuruh agar tanggung jawab itu muncul dengan sendirinya dari dasar nurani?

Atau lebih suka mengatakan “GUE NGGAK DISURUH KOK!”

Waduh! Bisa nggak ya jiwa batur ini diubah jadi jiwa pemimpin? Berinisiatif melakukan sesuatu karena tanggung jawab, dan bukan karena disuruh?

Di halaman ‘Berita Utama’ website Kementerian Luar Negeri, salah satu paragrafnya berbunyi:

“Untuk mengimplementasikan Piagam ASEAN terutama pentingnya membawa ASEAN lebih dekat kepada masyarakat, dan mempertimbangkan prioritas kerja sama ASEAN dalam kerangka kepentingan nasional, Kementerian Luar Negeri RI telah melakukan serangkaian kegiatan dan diseminasi mengenai ASEAN baru dan kerja samanya dengan mitra wicara ASEAN kepada media massa dan bloggers.”

Sumber: http://www.kemlu.go.id/Pages/News.aspx?IDP=5288&l=id

 

Sebagai Mitra Wicara, Bloggers sudah diperhitungkan sebagai komunitas yang powerful untuk mensosialisasikan program-program ASEAN. Melalui media apa? BLOG! Bukankah itu seharusnya merupakan suatu kebanggaan bagi para blogger? Lalu kenapa masih harus merasa terpaksa meng-update soal ASEAN Conference jika memang sudah berkomitmen untuk mendukungnya? Mana fungsi citizen journalism-nya?

 Sebuah renungan saja.   Tulisan saya tidak perlu dicerna dengan cepat, memang butuh waktu untuk memiliki kebesaran hati membiarkan pikiran terbuka untuk suatu perubahan.  

“Gue NGGAK DISURUH Kok!”
1 Comments and 1 Trackbacks

  • honeylizious Says:

    saya menulis meskipun tidak disuruh dan saya pikir blogger lain semuanya berniat untuk menuliskannya meskipun tidak ada perintah apa-apa…

    tapi saya menulis sesuai yang saya alami saja, tidak hanya di dalam ruang konferensi melainkan dari titik pertama saya melangkahkan kaki keluar dari rumah dan hingga kembali tiga hari kemudian.

    saya sudah menulis 5 bagian dan akan menulis bagian ke-6 esok hari.

    tapi apakah tulisan-tulisan kami adalah tulisan yang diinginkan? tulisn seperti apa sebenarnya yang harus muncul di blog kami? karena 5 cerita yang saya tulis sangat personal

  • Haruskah Blogger Menulis ? | Daeng Gassing Says:

    [...] Setidaknya itu yang saya tangkap dari twit maupun penjelasan Risa di blognya. [...]

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>