Cari Pacar? Jangan! Cari Soulmate saja!

A soulmate (or soul mate) is believed by some to be the person with whom one has a feeling of deep or natural affinity, similarity, love, intimacy, sexuality, spirituality, or compatibility. A related concept is that of the twin flame or twin soul, which is thought to be the ultimate soulmate. In New Age spirituality, the ultimate soulmate is the one and only other half of one’s soul. (Wikipedia)

Kalau dalam bahasa Indonesianya kira-kira begini :

Pasangan jiwa (atau jodoh) diyakini oleh beberapa orang sebagai seseorang yang memiliki perasaan daya tarik-menarik, kesamaan, cinta, keintiman, seksualitas, spiritualitas, atau kompatibilitas dengan seseorang lainnya secara mendalam dan alami. Konsep ini terkait dengan twin flame (api kembar) atau twin soul (jiwa kembar), di mana di antaranya terdapat belahan jiwa utama. Dalam era baru spiritual, ‘Soulmate’ adalah satu-satunya jiwa yang terbelah dua, masing-masing adalah setengahnya.

Coba kita lihat dari sisi yang lain.

According to Theosophy, whose claims were modified by Edgar Cayce, God created androgynous souls—equally male and female. Later theories postulate that the souls split into separate genders, perhaps because they incurred karma while playing around on the Earth, or “separation from God.” Over a number of reincarnations, each half seeks the other. When all karmic debt is purged, the two will fuse back together and return to the ultimate. (Wikipedia)

Menurut Teosofi, yang diklaim telah diubah oleh Edgar Cayce, Tuhan menciptakan jiwa berkelamin dua, jantan dan betina. Kemudian teori tersebut didalilkan bahwa jiwa dibagi menjadi jenis kelamin yang terpisah, mungkin karena mereka terkena karma saat bermain di sekitar Bumi, atau “Pemisahan dari Tuhan.” Selama beberapa kali reinkarnasi, tiap-tiap setengah jiwa itu akan mencari yang lain. Ketika semua hutang karma dibersihkan, keduanya akan menyatu kembali bersama-sama dan kembali ke asal.
*****

Wow, benarkah demikian? Sebenarnya masih banyak teori-teori lainnya. Tetapi intinya adalah, ketika kita ingin mencari pasangan yang benar-benar sudah ditakdirkan sebagai jodoh kita, maka yang harus kita lakukan adalah mencari ‘Soulmate’ kita tadi itu kan? Belahan jiwa kita itu.

Saya pernah mendengar ada sebuah film yang menceritakan bagaimana seorang perempuan rela mencari pasangan jiwanya itu ke seluruh dunia. Tetapi apakah harus seperti itu mencarinya? Lalu bagaimana cara yang lebih mudah untuk mencarinya dunks?

Yang pertama, kalau kita percaya dan memiliki niat baik, pasti Tuhan akan mendukung rencana kita, right? Itu saja dulu dicamkan dalam hati. Lalu, bagaimana supaya kemudian kita bertemu dengan pasangan jiwa kita itu yang tentunya sama sekali tak terbayangkan akan seperti apa?

Bertahun-tahun yang lalu sebelum saya bertemu dengan Mas Dwi, saya pernah berkenalan dengan seorang perempuan saat sedang menunggu taksi di sebuah halte. Saat itu sebenarnya saya sedang dekat dengan seorang laki-laki dan laki-laki itu sangat saya inginkan untuk menjadi pasangan saya, meski belum ada komitmen apa-apa yang terucap selain saling suka secara fisik. Dari obrolan basa-basi, tiba-tiba saja perempuan itu bicara soal jodoh. Saat itu, saya sama sekali tidak menganggap serius. Dia bilang, jodoh saya nanti orangnya tinggi, kurus, wajahnya manis, berkacamata, orangnya tegas tapi hatinya lembut. Sekolahnya sama dengan saya pendidikannya. “Cuma ada halangannya, ibunya laki-laki ini nggak setuju kalau dia kawin sama kamu,” katanya dengan nada sedikit menyesal.

Yang saya pikir, kalau memang ibunya laki-laki itu tidak setuju, kenapa dia dibilang jodoh saya dong? Percuma kan? Toh saya nggak akan kawin juga dengan laki-laki itu. Jodohnya ada di mana?

Lalu saya mencoba membandingkan sosok yang dia sebut tadi dengan laki-laki yang sedang saya sukai. Dia memang tinggi, berkacamata, manis, tapi tidak kurus. Tentu saja dia harus tinggi karena saya tidak suka laki-laki pendek! :P Soal pendidikan juga berbeda. Tapi semuanya berlalu seiring dengan datangnya taksi yang saya tunggu, dan perempuan itu tetap berada di halte.

Dua tahun setelah itu, saya bertemu dengan Mas Dwi, secara kebetulan. Perkenalan yang terjadi karena kebetulan. Kami dekat dan akhirnya berpacaran sampai sekarang. Saya tidak berpikir apa-apa soal ramalan perempuan yang dulu bertemu di halte itu kalau saja saya tidak berhadapan dengan masalah klasik, ibunya laki-laki itu tidak setuju kami menikah. Lalu, saya mulai mengamati Mas Dwi yang ternyata tinggi, kurus, berwajah manis, orangnya tegas tapi berhati lembut (apalagi kepada saya *hihi…). Pendidikan? Sama. Meski tadinya berbeda, sekarang kami sama-sama berlatarbelakang pendidikan hukum dan memiliki minat yang sama.

Damn! Ramalan itu ternyata benar dunks? Inikah jodoh saya yang dimaksud perempuan itu dulu? Saya bahkan tidak kenal perempuan itu!

Mari kita coba lihat definisi ‘Soulmate’ dari Urban Dictionary:

A person with whom you have an immediate connection the moment you meet – a connection so strong that you are drawn to them in a way you have never experienced before. As this connection develops over time, you experience a love so deep, strong and complex, that you begin to doubt that you have ever truly loved anyone prior. Your soulmate understands and connects with you in every way and on every level, which brings a sense of peace, calmness and happiness when you are around them. And when you are not around them, you are all that much more aware of the harshness of life, and how bonding with another person in this way is the most significant and satisfying thing you will experience in your lifetime. You are also all that much aware of the beauty in life, because you have been given a great gift and will always be thankful.

Yang kalau kita bahasa Indonesiakan:

Seseorang dengan siapa anda memiliki koneksi langsung saat anda bertemu – koneksi begitu kuat yang membuat anda tertarik kepada orang tersebut dengan cara yang anda tidak pernah alami sebelumnya. Karena koneksi ini berkembang dari waktu ke waktu, anda mengalami cinta yang begitu dalam, kuat dan kompleks, hingga anda mulai meragukan bahwa anda pernah benar-benar mencintai seseorang sebelumnya. ‘Soulmate’ anda memahami dan menghubungkan dengan anda dalam segala hal dan pada setiap tingkat, yang membawa rasa damai, ketenangan dan kebahagiaan saat berada di sekitarnya. Dan ketika anda tidak berada di dekatnya, anda semakin menyadari sadar kerasnya hidup, dan bagaimana ikatan dengan orang lain dengan cara ini adalah hal yang paling signifikan dan memuaskan dalam hidup anda. Anda juga akan begitu banyak menyadari keindahan dalam hidup, karena anda telah diberi karunia besar dan akan selalu bersyukur.
*****

Benar, saya merasa bersyukur sekali telah dipertemukan oleh laki-laki terbaik dalam hidup saya itu. Soal tidak diijinkan kawin, bagi saya kalau memang Tuhan mengijinkan, semuanya akan terjadi juga. Manusia tak akan mampu melawan kehendak Tuhan asalkan kita selalu meminta dengan kesungguhan hati.

Balik lagi kepada pencarian ‘Soulmate’ ini, beberapa orang yang sudah kawin pun bahkan bercerai. Apakah itu berarti dia belum bertemu dengan ‘soulmate’-nya? “Ah rasanya sih waktu mau kawin ‘soulmate’ banget kita!” begitu mungkin beberapa orang berpikirnya.

Jadi, kita itu akan yakin kalau pasangan kita ini soulmate bagaimana? Mungkin beberapa contoh di bawah ini akan bisa menjadi beberapa pertimbangan dalam menemukan ‘Soulmate’ atau belahan jiwa kita.

1. Kenali diri sendiri terlebih dahulu.
2. Hubungan antara pasangan jiwa itu bisa seimbang, kuat, dan positif. Tidak ada intimidasi, manipulasi, atau penyalahgunaan dalam hubungan tersebut. Keduanya harus merasa aman berada di dalamnya.
3. Hubungan atau interaksi di antara keduanya akan fit secara alami.
4. Sering terasa seperti cermin dengan pasangan mereka. Meskipun hal ini terdengar sedikit membosankan. Agak mirip-mirip gitu kali ya dalam banyak hal.
5. Hubungannya dipenuhi dengan kejujuran dan dukungan.
6. Ada rasa keakraban dan kebersamaan dalam sebuah hubungan dengan belahan jiwa kita, tanpa harus perlu menjadi orang lain.
7. Hubungannya sehat, bergairah dan harmonis, dapat dengan mudah melakukan kerjasama dalam banyak hal.
8. Jika dia memang belahan jiwa kita, maka ia akan bahagia melihat dan mengamati segala perkembangan yang terjadi pada pasangannya. Tidak ada rasa iri.
9. Soulmate akan menerima anda apa adanya, dan justru membantu anda mengeluarkan segala potensi terbaik dalam diri anda.
10. Soulmate adalah teman terbaik anda. Ia tak akan pernah meminta anda berubah!
11. Jika ia memang belahan jiwa anda, maka ia akan sangat menghargai komitmen sekecil apa pun yang dibuat, dan akan sangat menikmati saat-saat kebersamaan dengan anda.
12. Anda akan merasa terhubung dengan sangat kuat dari waktu ke waktu, bukan hanya gairah sesaat, dan bisa merasakan kesedihan ataupun kesenangannya meski tidak sedang berhadapan langsung.

Well, apakah kira-kira anda sudah mendapatkan ini dalam hubungan yang sekarang? Kalau pun belum, jika anda sudah kawin, bukan berarti anda harus meninggalkan pasangan anda. Mungkin mengupayakan hubungan menjadi lebih baik adalah cara yang paling tepat untuk menemukan ‘Soulmate’!

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>