Bersedekah Demi Siapa?

Category ARTICLES | Tags:

Twitter memang ajang yang memberikan keleluasaan bagi seseorang untuk bisa menyampaikan aspirasinya. Meski seringkali, ada sisi etika yang terlanggar, tetapi hampir setiap orang sepertinya bisa mengatasi itu dengan caranya masing-masing. Saya pun sering menemui hal-hal seperti itu. Kenapa saya jadi bicara Twitter ya? *Nggak nyambung loe, Ris!

Nyambung kok, karena pemicu posting ini sebenarnya juga hasil interaksi wara-wiri di Twitter.

Pada suatu pagi, saya membaca tulisan yang  mengatakan begini:  “Jangan perdebatkan cara bersedekah jika diri sendiri tidak bersedekah”.   

Saya tentu saja bukan tidak setuju dengan pernyataan tersebut, hanya saja timbul keisengan saya bertanya: “Kalau sedekah boleh memperdebatkan?”

Rupanya pertanyaan saya menimbulkan ketidak-nyamanan bagi yang menulis (setidaknya itu yang saya tangkap) hingga ia menjawab: “Memperdebatkan sedekah apakah itu sedekah?”

Dan jawaban saya: “Jadi kita berdebat nih?”

Pertanyaan saya tidak dijawab lagi, tak apa, mungkin juga pertanyaan saya itu dianggap tidak penting dan buang-buang waktu menjawabnya atau si penulis itu sadar juga kalau diteruskan berarti ia jadi berdebat dengan saya. Hahaha! Tapi begitulah interaksi Twitter, ada yang asyik dijawab ada yang tidak. Setiap orang bebas untuk menentukan prioritas interaksinya. Tetapi, adakah sesuatu yang terlewat dari situ?

Mari kita perhatikan substansi kalimat pertama. Di situ dia bicara soal “CARA BERSEDEKAH” dan pada kalimat tanggapannya yang berupa pertanyaan, dia bicara soal “SEDEKAH” itu sendiri.

Mungkin bagi dia sama, tapi bagi saya, materi tentang CARA BERSEDEKAH dan materi tentang SEDEKAH itu sendiri berbeda.

Soal cara bersedekah, memang tak usah diperdebatkan, baik oleh YANG BERSEDEKAH mau pun yang TIDAK. Karena ketika seseorang bicara soal ‘CARA BERSEDEKAH’ lalu diikuti oleh kalimat yang bernuansa tuduhan seperti ‘kalau diri sendiri tidak bersedekah’, maka ia kehilangan esensi dari  kalimat yang diucapkannya!

Dia bilang jangan perdebatkan, tapi dia sendiri seperti menuduh orang lain tidak bersedekah. Padahal, CARA BERSEDEKAH bagi orang lain belum tentu sama dengan yang dia lakukan, kan?

Anyway, itu hanya sebagai intermezzo saja. Tidak usah dianggap serius. Saya hanya ingin menggambarkan bahwa cara bersedekah itu banyak macamnya. Jadi, kalau mau mengajak orang bersedekah, sepertinya ajakan yang tidak bernada menuduh, jauh lebih baik.

Apakah karena saya tidak pernah bersedekah lalu saya mengomentari itu?

Well,  Surat Al-Baqarah ayat 274 mengatakan:

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Jadi dalam hal ini, biarlah Allah yang tahu apakah saya sudah bersedekah atau belum. Yang jelas, saya berusaha melakukan yang terbaik dalam hidup saya.

Ada surat lain dalam Alquran yang juga menggugah saya, yaitu:  Surat Al-Baqarah, ayat 272,

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Kalimat “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah)”, kalau saya pribadi menganggapnya berkaitan dengan harta terbaik yang dimiliki oleh setiap orang. Ini yang selalu menjadi pegangan saya ketika ingin melakukan sedekah, atau pun ketika saya menerima kebaikan orang lain. Mungkin saya agak berbeda, karena bagi saya sedekah itu artinya luas. Tidak terbatas pada uang.

Suatu hari, seseorang mengatakan kepada saya, jika doa mu ingin segera dikabulkan oleh Allah SWT, bersedekahlah pada anak-anak yatim atau orang tak mampu dengan memberi makanan pada mereka. Saya jadi bertanya-tanya sendiri, benarkah demikian? Saya ingin tahu, di mana ayat yang menyebutkan tentang doa dan makanan ini? Apakah harus diterjemahkan bahwa sedekah makanan lebih ‘powerful’ untuk membuat Tuhan menjawab doa atau permintaan kita? Kok begitu?  Dan ini belum terjawab sampai sekarang.

Bagi saya sendiri, ketika saya diberi sesuatu yang bermanfaat bagi saya dan memberi kebahagiaan tersendiri, itu sudah sebuah sedekah meski bentuknya bukan uang atau makanan. Di dalam sedekah itu juga terkandung nilai ‘ekonomi’ yang tentunya tak akan berbuah seketika, tetapi akan sangat berpengaruh pada apa yang sedang kita kerjakan.

Ketika saya mendapatkan testimonial dari seseorang yang sangat dikenal publik berupa penghargaan atas karya saya, pujian terhadap buku saya, tentunya itu sudah sebuah sedekah bagi saya. Selain pujiannya memacu saya untuk lebih giat berkarya, tentunya di dalamnya terkandung muatan ‘ekonomi’, yaitu secara tidak langsung promosi yang dilakukannya kepada banyak orang atas karya saya. Bagi saya itu sedekah. Efek langsungnya, saya bangga dan bahagia. Efek tak langsungnya, buku saya makin dikenal luas.

Ketika saya diberi pengetahuan banyak mengenai hukum oleh seseorang yang lebih berpengalaman, yang tentunya mengasah ketajaman berpikir saya hingga mampu menganalisa masalah dengan lebih baik, itu juga sebuah sedekah. Efek jangka pendeknya, saya merasa banyak dapat ilmu tambahan, efek jangka panjangnya, saya mendapatkan keuntungan di dunia kerja.

Ketika saya mendapatkan kemurahan hati dari anak-anak saya, yang merelakan Mamanya bekerja sepanjang waktu hingga waktu mereka tercuri oleh kesibukan saya, itu juga sedekah. Efek jangka pendeknya, saya merasa bersyukur mereka mau memahami saya, efek jangka panjangnya, saya lebih leluasa mencari nafkah buat mereka.

Jadi, sedekah itu menurut saya memang butuh keikhlasan bukan saja dari yang memberi, tetapi juga bagi yang menerima. Kalau seseorang memberi sedekah, tetapi yang menerima juga setengah hati, atau bahkan malah marah, ya lebih baik jangan diterima, kan? Atau, kalau hati tidak rela, apakah dipaksa bersedekah akan berkah? Rasanya tidak.

Apakah suatu kerelaan bisa terbentuk dalam sekejap karena paksaan? Saya belum tahu itu.

Kembali pada ‘cara bersedekah’ , saya pribadi tetap berpendapat, jangan ada paksaan. Jikalau ada orang yang berpendapat “kalau tidak dipaksa, orang tidak akan bersedekah”, setidaknya jangan ‘merampok’ kemerdekaan seseorang untuk mengolah hati dan pikirannya sendiri saat ingin melakukan sedekah.

Ya, saya tahu ada ayat yang mengatakan begini :

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”Surat An-Nisaa, ayat 114

Siapa yang mengajak bersedekah, akan mendapat pahala. Tapi bukan dengan cara memaksa atau ‘menodong’ sepertinya ya? :)

Sekedar berbagi pikiran.

Bersedekah Demi Siapa?
One Comment

  • Ejawantah's Blog Says:

    Setuju Mba. Bahkan para netter yang memilki blog yang bermanfaat dia telah melakukan yang terbaik untuk kehidupan ini. Karena mereka telah melakukan shodaqoh ilmu dan pengetahuan yang informatif.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>