Our Wonderful Europe and UK Travels Part 3 SWITZERLAND

Category Uncategorized | Tags:

MOUNT TITLIS, SWITZERLAND

Hari ini acaranya adalah berwisata ke MOUNT TITLIS, Engelberg. Berhubung kami akan bermain salju, maka tour leader telah menganjurkan untuk memakai pakaian berlapis supaya bisa menahan dingin. Saya pun memakai pakaian dengan banyak lapis. Untung celana jeans saya masih muat, padahal saya pakai 2 long john lho!

Dari kemarin saya menyebut long john mungkin ada yang belum tahu, ya. Bagi yang belum tahu long john, itu adalah pakaian lapis dalam untuk musim dingin. Biasa juga disebut long underwear atau thermal underwear. Bentuknya seperti stocking dan kaos dalam berlengan panjang. Pernah nonton film Inggris yang ada adegan pakai baju tidur untuk cowok? Nah, seperti itu deh modelnya.

Kalau kita beli long john harganya bervariasi, demikian pula warnanya. Warna ada yang coklat seperti warna kulit, putih, dan hitam. Makin mahal harganya, makin hangat dipakainya. Kalau sudah beli yang mahal masih kurang hangat juga, ya hangati saja hatimu…*hahaha….

Balik lagi ke topik semula, Mount Titlis adalah sebuah gunung yang ada di pegunungan Alpen, di Swiss atau Switzerland. Tinggi gunung ini sekitar 3,029 meter dan suhunya mencapai 0 (nol) derajat Celcius. Jaman kita masih sekolah SD dulu, sering ya kita dapat soal ulangan umum ada kata “pegunungan Alpen”? Nahhh akhirnya saya bisa juga deh menjejakkan kaki di salah satu gunung di pegunungan Alpen! Yeay!

Perjalanan dari Zurich ke Mount Titlis kira-kira 1 – 1,5 jam dengan bus. Tiba di lokasi, saya begitu excited karena belum pernah berada di sekitar area yang dikelilingi pegunungan yang bersalju. Benar-benar indah pemandangan di Swiss ini. Meski dinginnya menggigit sampai ke tulang, meskipun sudah pakai baju berlapis-lapis, tapi excitement dalam hati tak tertahankan. Saya sengaja membawa topi yang ada tutup kupingnya karena angin dingin itu kalau kena kuping parah banget! Jadilah tampang saya seperti anak domba! *hihihi…

Muka saya ini nggak pernah pantas kalau pakai topi, bahkan saat hanya pakai topi Paskibra. Tapi saat dingin dan harus pakai topi, apa boleh buat, tampang tak usah terlalu dipikirkan, yang penting potonya keren karena berada di lokasi yang sudah saya impikan sejak kecil. Eh tapi itu pikiran saya saat masih berada di Eropa sih…saat sudah pulang, saya mengelus dada dan hanya bisa berbisik lirih “culun banget sihhh gue….*hiks…

Perjalanan dari Engelberg (dari bawah) menuju ke puncak Mount Titilis sekitar 40 menit. Dari bawah, naik cable car selama 30 menit. Cable car ini berisi maksimal untuk 6 orang. Saya dan Mas Dwi kebetulan bergabung dengan 4 orang peserta tour. Mengantri untuk naik cable car ramai dan harus sabar. Selain harus sabar juga harus berhati-hati terhadap orang yang ingin bermain ski. Jangan aja terlalu dekat dengan mereka, bisa-bisa kalau berdesakan dan terinjak sepatu ski mereka…Ow my…bisa ke UGD deh! Gila, itu sepatu berat banget!

Kami mendapat masing-masing satu ticket yang dipakai untuk masuk dan membuka pintu. Jadi, setiap yang ingin naik, harus melewati pintu pembatas yang harus discan ticket, baru bisa terbuka. Jangan sampai hilang ticketnya.

Perjalanan dengan cable car seperti naik kereta gantung deh… Bedanya, ini makin lama makin ke atas dan di sekeliling kita salju. Dari atas cable car, kita bisa melihat orang-orang yang bermain ski di bawah. Pemandangan pegunungan Alpen sangat indah. Saya teringat film yang menceritakan bagaimana terjebak di pegunungan salju. Keindahan seperti itu bisa dijadikan sesuatu yang mencekam oleh film-film itu. Meski lokasinya tak tepat seperti di Mount Titlis, tapi penggambaran suasana dingin dan dicekam ketakutan terasa sekali kalau di film “Frozen”, “Alive” dan “The Grey”. Ditambah dengan serigalanya pula ya?

Sebelum naik cable car, kami di-briefing dulu oleh tour leader. Nanti akan ada dua stop di atas. Jangan turun di stop yang pertama, nanti terpisah dengan rombongan. OK. Dicatat. Tidak ada masalah saat kami naik ke atas.

Turun dari cable car, berganti kendaraan naik kereta Stand yang isinya lebih banyak, sekitar 30 orang. Turun lagi, ganti lagi terakhir naik Rotair, isinya sekitar 50 orang. Rotair ini kereta gantung juga, tapi bisa berputar. Jadi kita yang berada di dalam, diputar pelan sekali supaya bisa menyaksikan pemandangan sekeliling. Stand dan Rotair hanya masing-masing 5 menit saja.

Dan…. Akhirnya sampai juga saya di puncak Mount Titlis. Amazing! Saya berada di puncak gunung! Gak terpikir turunnya bagaimana, yang penting bersenang-senang! Di puncak Mount Titlis ini ada gedung bertingkat 5 yang di dalamnya terdapat bermacam-macam fasilitas.

Lantai 1: Glacier Cave – Gua es, kita bisa berkeliling gua ini kalau suka. Saya sih tidak terlalu suka, karena hanya gua berdinding es. Dulu di Dufan juga ada *hihi…

Lantai 2: Watch Shopping Center – Tempat dijual jam tangan buatan Swiss. Swiss terkenal sebagai penghasil jam, dan salah satu tempat untuk beli jam bagi turis ya di sini. Tapi katanya harganya lebih mahal dibandingkan yang di Luzern.

Lantai 3: Restaurant – di sini juga ada coffee shop dan tempat makan ice cream Swiss yang terkenal dan enak bangetsss itu! MÖVENPICK! Ini ice cream belum ada di Indonesia. Rasanya…. Enaaaaaak bangeeeetssss! Bayangkan, di atas puncak gunung es, anda bisa makan ice cream? Keren ya? Karena di café itu hangat, jadi makan ice cream pun rasanya nikmaaaaat!

Lantai 4: Studio Foto – di studio ini orang-orang bisa berfoto dengan pakaian tradisional Swiss. Saya dan Mas Dwi sempat mengantri sekitar 10 menit, tapi merasa tidak worthed untuk buang-buang waktu antri berjam-jam. Yang mau potret banyak banget, belum lagi pakai acara berganti bajunya satu-satu, jadi lama sekali. Berbeda dengan yang di Belanda, kalau di Belanda, cepat!

Lantai 5: Outdoor Area – ini paling seru, tempat kita main salju di outdoor! Yang ini lihat di video di bawah saja ya, bagaimana noraknya saya berada di alam terbuka ini. Yah, namanya saja baru pertama kali bermain salju, jadi norak nggak apa-apa dunks. Kata Desiree (salah seorang sahabat saya) “Setiap orang berhak untuk norak. Jadi, pergunakanlah hak itu dengan baik.” – Okesip!

[embedplusvideo height="365" width="450" standard="http://www.youtube.com/v/ovv6KE6W41k?fs=1" vars="ytid=ovv6KE6W41k&width=450&height=365&start=&stop=&rs=w&hd=0&autoplay=0&react=1&chapters=&notes=" id="ep7793" /]

Pengalaman mengunjungi Mount Titlis harus saya akui adalah bagian terindah yang saya rasakan. Maksud saya, kalau hanya berkeliling kota, mengunjungi tempat bersejarah, itu biasa. Tapi mencapai puncak gunung es yang saljunya abadi? Keren banget!

Lagi-lagi saya bersyukur memakai sepatu dan topi yang pas untuk di salju hingga bisa menikmati bermain salju. Kalau sepatu kita salah, bisa-bisa terpeleset! Dan kalau topi tidak menutupi kuping, tak akan bertahan lama main-main di salju! Ow ya, saat kami sedang berjalan menuju tempat pembelian ticket, tiba-tiba salah seorang peserta tour, seorang ibu, terpeleset es yang sudah membeku. Dia jatuh, tapi karena malu akhirnya tertawa saja. Saya bangga. Lho, ada orang jatuh kok bangga sih loe, Ris? Iya, saya bangga karena saat ibu itu jatuh, orang pertama yang menolong adalah Mas Dwi! Sementara suami dan anak-anaknya yang ada di dekat dia malah ikut tertawa tapi telat membantunya berdiri. Ah, keren deh laki gue!

Soal jatuh ini ternyata dibahas lagi saat sedang dalam cable car. Kebetulan kami satu group. Si ibu bilang sambil ketawa: “Aduh saya tadi malu banget sampe jatoh…” dan suaminya menanggapi dengan canda: “Bukan karena mau foto kan tadi pakai jatuh segala?” *hahahaha!

Pengalaman yang unik lagi adalah saat berusaha menyalakan rokok. Sebagai perokok, saya jadi punya pengalaman menyalakan rokok di bawah hujan salju dan angin yang menderu! Seruuuu! Hahahaha… Yang anti rokok gak boleh protes, emang enak kok! :p

Saat waktu wisata habis di Mount Titlis, saya belum puas. Padahal kami sudah berjam-jam di sana. Rasanya ingin tinggal lebih lama lagi di situ. Entah kenapa. Saya suka sekali berada di sana. Saat turun kebetulan banyak cable car yang kosong. Saya pun dapat kesempatan naik cable car berdua saja dengan Mas Dwi. Rekamannya ada di video di bawah ini.

[embedplusvideo height="365" width="450" standard="http://www.youtube.com/v/JphrKx23fzU?fs=1" vars="ytid=JphrKx23fzU&width=450&height=365&start=&stop=&rs=w&hd=0&autoplay=0&react=1&chapters=&notes=" id="ep8091" /]

Kamipun asyik berfoto-foto dan merekam karena leluasa hanya berdua di cable car. Tapi ada hal penting yang akhirnya jadi terlupakan.

Sampai di pemberhentian pertama, dengan santai saya dan Mas Dwi turun. Tak ingat apa-apa. Kamipun langsung mencari jalan untuk turun. Tiba-tiba dari cable car belakang ada yang berteriak: “Tanteeee…satu lagi! Turunnya di stopan satu lagi, bukan yang ini!”

“Owwwww shoooot! Gue lupaaaa!!”

Karena panik, saya berteriak memanggil Mas Dwi yang sudah jalan di depan saya.

“Yaaaaang… salah turunnyaaaaa… Satu lagi stasiunnyaaaa!!” teriak saya.

Mas Dwi tidak kelihatan. Tanpa sadar saya lari ke arah cable car dan berusaha menahan pintu cable car supaya tidak tertutup! Lalu lari lagi ke arah pintu untuk memanggil Mas Dwi yg belum juga kelihatan.

“Yayaaaangggg…. Duuuh mana sihhhh…. Cepetaaaan baliiiik…. Kita salah turuuuun…!!” teriak saya makin panik karena cable car kami terus berjalan. Saya takut kami tak bisa menaikinya lagi.

Tiba-tiba, Mas Dwi kelihatan tergopoh-gopoh berusaha kembali ke atas. Ada beberapa anak tangga yang menghalangi da nada pintu yang harus dibuka pakai ticket. Anak di cable car belakang saya tadi teriak lagi: “Om-nya suruh lompat aja, Tanteeee…. Siniii barengan kita aja nanti!”

Saya masih panik tapi agak tenang melihat Mas Dwi muncul.

“Ayo yaaaang… cepeeeeet….hap hap hap!!” Dengan bodohnya saya memberi semangat Mas Dwi dan balik lagi ke cable car kami, berusaha menahan pintunya, padahal pintunya belum tertutup!

Mas Dwipun akhirnya melompati pagar tersebut. Melihat kepanikan kami, petugas stasiun cable car sampai tertawa dan bahkan tak marah. Paling dia pikir ini orang kampung mana sih norak kaya gini!

Saya menunggu di dekat pintu, akhirnya Mas Dwipun berhasil sampai di tempat saya berdiri. Bergandengan tangan kami lari mengejar cable car kami tadi! Pintunya hampir tertutup. Tapi berhasil kami buka dan hup…! Kami pun berhasil naik kembali ke cable car itu! Hahahahahahah… Legaaaaa!!

Rombongan di belakang tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah kami. Ini James Bond nyasar apa yak? Wakakakakak! Padahal kan kami tidak harus mengejar cable car itu! Toh kami tinggal bilang pada petugas di stasiun itu bahwa kami salah turun, pasti nanti dicarikan cable car yang kosong! Yahhh paling menunggu beberapa menit deh… Tapi nggak usah seperti James Bond gitu! Hahahahaha…..

Sampai juga kami di bawah. Cerita tentang kami salah turun pun beredar dan orang-orang satu group tertawa. Anak-anak remaja yang menyaksikan kejadian itu malah ada yang komentar: “Wahhh kalau dibuat cerita sinetron keren banget tuhh tadi!” *hahahahaha…dasar!

Dari Mount Titlis, perjalanan dilanjutkan menuju Luzern. Selamat tinggal Mount Titlis, saya akan kembali lagi suatu saat nanti!

LUZERN/LUCERNE, SWITZERLAND

Tadi di Mount Titlis, saya sudah menyebutkan ada watch shopping gallery yang menjadi tempat tujuan para turis untuk berbelanja jam tangan. Swiss yang terkenal dengan produksi jam tangannya, banyak menjadi incaran turis yang ingin membeli jam tangan langsung dari negara penghasilnya.

Sebelum menuju ke pertokoan jam tangan, kami singgah di salah satu tempat bersejarah di Luzern, yaitu THE LION OF LUCERNE. Bertempat di Denkmalstrasse 4, 6006 Lucerne, Switzerland.

The Lion of Lucerne adalah monumen yang dibangun untuk memperingati jasa-jasa para tentara  bayaran Swiss (Swiss Guards) yang pada era revolusi Perancis telah menjadi pengawal setia kerajaan Perancis. Negara Swiss dulunya miskin hingga banyak para pemudanya yang kemudian menjadi tentara untuk kerajaan Perancis dan turut berperang. Dirancang oleh Bertel Thorvaldsen dan dipahat pada 1820-1821 oleh Lukas Ahorn. Secara khusus dimaksudkan sebagai penghargaan bagi Garda Swiss yang dibantai pada tahun 1792 selama Revolusi Perancis, saat revolusioner menyerbu Istana Tuileries di Paris, Perancis.

Mark Twain memuji patung singa terluka-luka sebagai “bagian paling menyedihkan dan menggerakkan hati dari seluruh batu yang ada di dunia.”

Sejak awal abad 17, sebuah resimen tentara bayaran Swiss pernah menjabat sebagai bagian dari keluarga Raja Perancis. Pada tanggal 6 Oktober 1789, Raja Louis XVI telah dipaksa untuk pindah bersama keluarganya dari Istana Versailles ke Istana Tuileries di Paris. Juni 1791 ia mencoba melarikan diri ke luar negeri. Dalam 10 dari 1.792 Pemberontakan Agustus, revolusioner menyerbu istana. Pertempuran pecah secara spontan setelah keluarga kerajaan telah dikawal dari Tuileries untuk berlindung bersama dengan DPR. Para Garda Swiss kekurangan amunisi dan kewalahan oleh jumlah lawan yang tak seimbang. Raja kemudian memerintahkan Garda Swiss untuk menyerah dan kembali ke barak mereka, tapi ini dilakukan saat posisi mereka telah terjepit dan tak bisa lagi bertahan. Garda Swiss membela Tuileries, lebih dari enam ratus orang tewas dalam pertempuran atau dibantai setelah menyerah. Diperkirakan dua ratus lebih meninggal di penjara karena luka mereka atau tewas selama Pembantaian September (“September Massacres”). *sumber: Wikipedia dan cerita Tour Leader*

Tempatnya memang sejuk di sana. Saat kami tiba di monumen, matahari cerah. Angin dingin berbaur dengan hangatnya sinar matahari.

 

 

Dari monumen, kami menuju ke pertokoan. Hari ini masih hari libur, boxing day. Hanya beberapa toko yang buka di Luzern, sepertinya toko-toko ini memang tujuan para turis sehingga mereka tetap buka. Kami masuk ke toko jam terkenal di Luzern, BUCHERER. Sayangnya, asyik melihat-lihat jam di dalam, saya lupa berfoto ria. Susah juga kalau biasa difoto oleh fotografer, terus jalan nggak ada yang motretin, yaaaahhhh lewat deh! *hihi…

Kami membeli beberapa jam di Bucherer. Oleh-oleh buat anak-anak saya yang paling penting. Usai berbelanja jam tangan, kami menuju tempat berbelanja souvenir dan oleh-oleh. Nama tokonya Casagrande. Sebenarnya banyak sekali toko-toko lain, salah satunya ‘Embassy’,  tapi ya itu tadi, sayangnya toko-toko itu tutup!

Udara yang dingin di luar membuat kami betah berada di dalam toko souvenir. Saat udara dingin dan jalan-jalan seperti ini, sangat penting mencari toilet. Untungnya di Casagrande ini ada toilet dan gratis! *Jiahahaha…seneng banget dapet toilet gratis! Ya iyalaaaahhh… Soalnya selama di Eropa, jarang dapat toilet gratis!

Ngomong-ngomong soal toilet umum di Eropa, biaya toilet di sana rata-rata mulai dari 0.5 Euro – 3 Euro, tergantung tempat yang dikunjungi. Tapi meski bayar, toilet di sana tidak jorok seperti toilet-toilet umum di Indonesia. Kecanggihan lain adalah, saya tidak menemukan toilet yang untuk menyiramnya menggunakan ‘toilet handle’. Semua serba memakai sensor. Jadi, tinggal mengarahkan tangan atau terkena badan kita saja, toilet langsung tersiram secara otomatis. Begitu juga dengan tempat cuci tangan.

Sebagai orang Indonesia (banget) saya paling tak betah kalau hanya membersihkan diri pakai tissue. Jadi, setiap kemana-mana, saya selalu membawa botol kecil untuk saya isi air sebelum masuk ke dalam bilik toilet. Kebersihan alat vital itu penting, jadi, meski terlihat tak modern, saya tetap berprinsip, harus dibersihkan dengan air! Ibu-ibu yang ada di group saya sebelumnya tak memperhatikan cara saya, tapi begitu mereka melihat cara saya, baru mereka tersadar, iya juga ya, kenapa nggak bawa botol untuk tempat air….hehehe….

Saya agak ‘melenceng’ sedikit, kalau kita tour dengan bus, memang kita akan mengalami beberapa kali toilet stop. Toilet stop biasanya 2 atau 3 jam sekali. Jadi bayangkan berapa banyak saya harus ke toilet kan? Pergi ke toilet itu seperti anugerah! Karena, kalau kita tidak ke toilet saat bus berhenti, bagaimana kalau ingin buang air kecil saat di tengah perjalanan? Bakalan susah dan menyusahkan banyak orang tuh!

Bus yang kami tumpangi memang tidak ada toiletnya. Menurut team leader kami, bus sengaja tidak dipilih yang memakai toilet karena kapasitas tampung toilet terbatas. Musim winter biasanya membuat beku saluran pembuangan dan kalau itu terjadi, maka bau akan menyebar ke dalam bus. Jadi alternatifnya adalah toilet stop. Toilet stop ini menyenangkan juga karena setiap kali toilet stop kita bisa sekalian beli kopi dan merokok dulu!

Kalau waktu di Italy, kami toilet stop di Auto Grill. Di Auto Grill toiletnya ada yang bayar ada yang tidak. Tetapi yang asyik adalah, itu seperti ‘rest area’ dan pom bensin. Auto Grill tempatnya nyaman dan makanan yang ada di situ enak-enak juga, lho! Nama restaurant yang hampir selalu ada di Auto Grill adalah Ciao Ristorante.

Swiss juga terkenal dengan coklatnya. Di Casagrande kami berbelanja coklat yang beraneka-ragam untuk oleh-oleh dan dimakan sendiri. Usai belanja, masih punya waktu 2 jam sebelum berkumpul lagi di meeting point. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri pinggiran danau di Luzern atau yang terkenal dengan sebutan “Lake Lucerne”. Danau ini indah dan nyaman sekali untuk duduk-duduk setelah lelah berjalan-jalan di pertokoan. Di pinggir danau disediakan kursi-kursi taman bagi orang-orang yang ingin menikmati pemandangan danau atau sekedar berbincang sambil menikmati suasana.

Selain Lake of Lucerne yang nyaman, ada tempat bersejarah lagi yaitu BRIDGE OF LUCERNE atau CHAPEL BRIDGE. Dibangun pada tahun 1333 dan dirancang untuk perlindungan kota Luzern di masa lalu. Yang unik adalah, di jembatan itu terdapat rangkaian lukisan yang menceritakan sejarah kota Luzern. Sayangnya foto yang saya ambil kurang bagus. Udara dingin dan repot dengan sarung tangan membuat foto-foto agak terganggu. *ah, alesan aja hihi… eh tapi bener, memang repot memotret pakai sarung tangan! Besok-besok kalau jalan-jalan di musim winter lagi, harus pakai sarung tangan yang jarinya bisa ‘keluar’ deh!

*foto dari Wikipedia dan Luzern tourism*

Di sebelah Chapel Bridge ada “water tower” yang disebut Wasserturm.  Dulu menara ini ini adalah penjara dan ruang penyiksaan tapi saat ini telah menjadi bagian dari tembok kota.

SWISS, saya paling suka negara ini. Indah, damai, orang-orangnya ramah dan beretika tinggi, dan kota yang telah saya lihat rapi. Ahhhh pokoknya nanti harus balik lagi ke SWISS! *Bagaimana kalau mulai melamar kerja ke headquarter ya supaya bisa pindah ke SWISS? :))

Malam hari kami kembali ke Zurich dan menginap satu malam lagi untuk keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke KOLN/COLOGNE, Germany.

TO BE CONTINUED

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>