SURAT TERBUKA : Usulan Perlindungan Hak Cipta Independen Bagi Karakter Fiksi Dalam Perubahan Undang-Undang Hak Cipta

Category Uncategorized | Tags:

Pak Raden memberikan kenang-kenangan boneka Si Unyil hasil karyanya kepada Tim Kuasa Hukum sebagai ucapan terima kasih.

Pak Raden memberikan kenang-kenangan boneka Si Unyil hasil karyanya kepada Tim Kuasa Hukum sebagai ucapan terima kasih atas bantuan hukum selama perjuangan hak cipta Si Unyil.

 

Jakarta, 14 April 2014

No. Surat : 007/SWIPAS/IV/2014

Sifat : TERBUKA


Kepada Yth.

Ketua Tim Pansus

RUU Hak Cipta

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

Republik Indonesia

 

Perihal            :           Usulan Perlindungan Hak Cipta Independen Bagi Karakter Fiksi

                                    Dalam Perubahan Undang-Undang Hak Cipta

 

Dengan hormat,

Terkait dengan Rancangan Undang-Undang (RUU) Hak Cipta yang sedang dibahas di Pansus, pada kesempatan ini, saya selaku Konsultan Hak Kekayaan Intelektual, bermaksud untuk turut memberikan kontribusi pemikiran yang diharapkan dapat menjadi bahan perumusan RUU dalam rapat-rapat Pansus.

Usulan saya adalah sebagai berikut :

1. Latar Belakang

Undang-undang Hak Cipta pada Pasal 12 telah merinci sejumlah Ciptaan yang dilindungi. Saya melihat bahwa rincian yang ada belum cukup memadai atau mencakup perlindungan yang lebih luas karena belum mencantumkan perlindungan hukum terhadap Ciptaan yang disebut dengan Karakter Fiksi.

Penambahan rincian di dalam Pasal 12 atau pada pasal lain sesuai dengan konstruksi rencana perubahan Undang-undang akan menjadikan Undang-undang Hak Cipta di masa mendatang lebih mempunyai perspektif yang internasional dan juga bisa melindungi hasil ciptaan Karakter Fiksi yang sudah ada di Indonesia, hasil karya cipta anak bangsa.

2. Pengertian Karakter Fiksi

Para pecinta film pasti mengenal tokoh-tokoh dalam film-film yang mereka gandrungi. Sebut saja film-film besutan Marvel yang saat ini sedang digandrungi para pecinta film. Dalam film-film produksi Marvel tersebut ada karakter fiksi superhero yang menjadi sentral cerita, Iron Man, X-Men, Hulk, Spiderman, Fantastic Four, dan lain-lain.

Secara sederhana, yang dimaksud dengan Karakter Fiksi adalah tokoh ciptaan seseorang dalam sebuah karya seni seperti novel, drama, opera atau film.  Jika tokoh itu merupakan karya imajinasi seseorang dan bukan seseorang yang benar-benar ada atau benar-benar hidup, maka tokoh itu disebut sebagai  “karakter fiksi” atau “tokoh fiktif”.

Di Indonesia kita juga mengenal beberapa karakter fiksi yang merupakan karya para Pencipta di Indonesia, yaitu seperti Si Unyil, Wiro Sableng, Lupus, Gundala Putra Petir, dan lain-lain.

3. Manfaat Pencantuman Perlindungan Hak Cipta Independen Karakter Fiksi

Sebenarnya sudah terjadi banyak pelanggaran-pelanggaran atas prinsip perlindungan hak cipta yang belum disadari banyak orang sebagai suatu pelanggaran.  Bagi kepentingan industri kreatif dalam dan luar negeri, diharapkan akan menjadi lebih bergairah apabila Undang-undang Hak Cipta Republik Indonesia, merupakan Undang-undang yang progresif, antisipatif, dan memadai.

Sebagai contoh misalnya pada September 2013, Distrik Pusat California  mengeluarkan putusan bahwa kendaraan Batman yaitu “Batmobile” adalah karakter fiksi yang memilik

i hak cipta independen. Contoh lainnya lagi adalah karakter Si Unyil yang dialihwujudkan dari film menjadi bentuk ciptaan lain yaitu merchandise, komik, dan lain-lain tanpa sepengetahuan penciptanya.

Karakter Fiksi tersebut, memiliki nilai ekonomi sangat besar baik dalam bentuk tertulis, grafis, maupun bentuk-bentuk pengalihwujudan lain seperti tokoh dalam film.  Karakter dalam film, serial produksi televisi, video game, situs web, hak merchandising dan bentuk-bentuk eksploitasi ekonomi lain dapat menghasilkan keuntungan ekonomi yang besar bagi Pencipta/Pemegang Hak Cipta atas karakter-karakter tersebut jauh melebihi dari hanya sekedar karakter yang awalnya hanya dibuat dalam bentuk tulisan. 

 

4. Beberapa Referensi Hukum Internasional 

Indonesia adalah negara penandatangan Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works yang dalam Pasal 2.6 menyatakan : “The works mentioned in this Article s

hall enjoy protection in all countries of the Union. This protection shall operate for the benefit of the author and his successors in title.”

Dengan demikian, maka perlindungan karakter fiksi yang dihasilkan oleh negara-negara lain  juga memiliki perlindungan hak cipta secara independen di Indonesia dan tidak boleh dialihwujudkan TANPA IJIN penciptanya apalagi untuk kepentingan komersial.

Pemahaman mengenai perlindungan hak cipta harus dilakukan dengan berpikiran terbuka atas lingkup perlindungan seiring dengan kemajuan jaman dan teknologi. Perlindungan hak cipta independen atas karakter fiksi seperti yang dilakukan di Amerika Serikat di bawah ini akan dapat diterapkan di Indonesia mengingat Indonesia pun telah melahirkan banyak pencipta karakter fiksi. 

  • Putusan Pengadilan Amerika Serikat atas kasus Nichols v. Universal Pictures Corp yang memutuskan bahwa karakter fiksi yang memenuhi syarat perlindungan “Story Being Told” dan “Especially Distinctive”, dilindungi hak ciptanya secara independen.
  • Putusan Pengadilan Banding di Amerika Serikat atas karakter Superman yang  menghasilkan putusan bahwa DC Comics memiliki hak cipta independen secara penuh atas karakter tersebut.
  • Distrik Pusat California juga mengeluarkan putusan bahwa kendaraan Batman yaitu “Batmobile” adalah karakter yang memiliki hak cipta independen.

 

5. Usulan Rumusan Pasal pada RUU Hak Cipta

Adapun rumusan pasal mengenai perlindungan hak cipta independen atas karakter fiksi ini dapat dilakukan antara lain dengan cara disisipkan pada Pasal 12 setelah huruf f, misalnya pada huruf g yang bunyinya menjadi :

g. Karakter fiksi;

(dengan demikian karakter fiksi menjadi salah satu Ciptaan yang dilindungi menurut Undang-undang Hak Cipta)

dengan tambahan Penjelasan Pasal 12 : 

Yang dimaksud dengan Karakter Fiksi adalah tokoh ciptaan seseorang dalam sebuah karya seni seperti novel, drama, opera atau film.  Tokoh ciptaan itu merupakan karya imajinasi seseorang dan bukan seseorang yang benar-benar ada atau benar-benar hidup, yang memenuhi syarat perlindungan sebagai berikut :

1. “Story Being Told”, karakter fiksi haruslah menjadi tokoh utama, atau tokoh yang membangun sebuah cerita, bukan hanya sebagai ‘kendaraan’ dalam menyampaikan sebuah cerita.

2. “Especially Distinctive”, karakter fiksi harus dikenal secara luas oleh masyarakat, dikembangkan dengan baik dan digambarkan dengan konsisten dengan  ciri-ciri yang benar-benar mendefinisikan karakteristik fisik, emosional dan psikologis serta kepribadian dari karakter fiksi pada titik di mana Pencipta dapat mengembangkan mereka, menempatkan mereka dalam situasi yang baru, membuat mereka berperilaku dan bereaksi dengan cara yang dapat segera dikenali, khas dan dapat diprediksi.

Demikian usulan saya. Jika diperlukan keterangan lebih lanjut, saya bersedia menyampaikan penjelasan baik lisan maupun tertulis. Atas perhatian dan dukungannya, diucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Risa Amrikasari, S.S., M.H

Konsultan Hak Kekayaan Intelektual /417-2010

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>