Hak Cipta Batik bukan lagi tradisional, tapi kontemporer, bersifat inovatif, masa kini! (RUU Hak Cipta yang baru disahkan)

Category Uncategorized | Tags:

risabatikHari ini, 2 Oktober 2014, semua rakyat Indonesia yang cinta batik, merayakan Hari Batik Nasional. Hari Batik Nasional ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden No. 33 Tahun 2009 Tentang Hari Batik Nasional.

Melalui Fourth Session of the Intergovernmental Committee (4.COM) – Abu Dhabi, United Arab Emirates, 28 September to 2 October 2009, BATIK INDONESIA terdaftar dalam Lists of intangible cultural heritage and Register of best safeguarding practices of UNESCO Intangible Culture Heritage.

Deskripsi BATIK INDONESIA yang ada dalam UNESCO Intangible Culture Heritage itu adalah sebagai berikut :

The techniques, symbolism and culture surrounding hand-dyed cotton and silk garments known as Indonesian Batik permeate the lives of Indonesians from beginning to end: infants are carried in batik slings decorated with symbols designed to bring the child luck, and the dead are shrouded in funerary batik. Clothes with everyday designs are worn regularly in business and academic settings, while special varieties are incorporated into celebrations of marriage and pregnancy and into puppet theatre and other art forms. The garments even play the central role in certain rituals, such as the ceremonial casting of royal batik into a volcano. Batik is dyed by proud craftspeople who draw designs on fabric using dots and lines of hot wax, which resists vegetable and other dyes and therefore allows the artisan to colour selectively by soaking the cloth in one colour, removing the wax with boiling water and repeating if multiple colours are desired. The wide diversity of patterns reflects a variety of influences, ranging from Arabic calligraphy, European bouquets and Chinese phoenixes to Japanese cherry blossoms and Indian or Persian peacocks. Often handed down within families for generations, the craft of batik is intertwined with the cultural identity of the Indonesian people and, through the symbolic meanings of its colours and designs, expresses their creativity and spirituality.

 OK. Sampai di sini berarti BATIK INDONESIA yang merupakan “Budaya Takbenda Warisan Manusia” dianggap sudah mendapatkan pengakuan internasional terhadap mata budaya Indonesia. Hal ini diperkuat dengan butir (b) pada Keputusan Presiden tentang Hari Batik Nasional tersebut yang menyatakan : “bahwa dengan adanya pengukuhan sebagaimana dimaksud pada huruf a, dapat meningkatkan citra positif dan martabat bangsa Indonesia di forum internasional serta menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan Indonesia;”.

Sekarang mari kita beralih untuk melihat apa yang tertulis sebagai BATIK pada UU Hak Cipta No. 19 Tahun 2002.

Pasal 12 butir (i) menyatakan bahwa “seni batik” merupakan salah satu Ciptaan yang dilindungi. Mari kita perhatikan kata “seni”. OK. Jadi selama ini, dalam UUHC 2002, Batik itu termasuk kategori “seni” kalau ingin mendapatkan perlindungan hak cipta karena memang hukum hak cipta tidak memberikan perlindungan terhadap ekspresi budaya.

Dalam bagian Penjelasan, dapat kita temukan mengenai “seni batik” ini sebagai berikut :

Huruf i

Batik yang dibuat secara konvensional dilindungi dalam undang-undang ini sebagai bentuk Ciptaan tersendiri. Karya-karya seperti itu memperoleh perlindungan karena mempunyai nilai seni, baik pada Ciptaan motif atau gambar maupun komposisi warnanya. Disamakan dengan pengertian seni batik adalah karya tradisional lainnya yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang terdapat di berbagai daerah, seperti seni songket, ikat, dan lain- lain yang dewasa ini terus dikembangkan.

Sampai di sini, kita masih melihat bahwa usaha melindungi batik sebagai warisan budaya membuat batik yang dibuat secara konvensional dan memunculkan nuansa tradisional yang kuat. Semua orang Indonesia dianggap paham motif batik itu seperti apa, sehingga seni dari berbagai daerah dengan penyebutan lain disamakan pengertiannya dengan batik. Tapi batik tetaplah batik, sifat tradisionalnya yang khas tetap melekat. That’s batik! You know what I mean, don’t you?

 Lalu, mari kita lihat sekarang mengenai perlindungan hak cipta BATIK pada RUU Hak Cipta yang baru disahkan oleh DPR.

 Pasal 40 butir (j) menyebutkan “karya seni batik atau seni motif lain” sebagai salah satu Ciptaan yang dilindungi.

 Yang menarik adalah, pada bagian Penjelasan, kita bisa menemukan hal baru seperti yang saya kutip berikut ini :

Huruf  j

Yang dimaksud dengan “karya seni batik” adalah motif batik kontemporer yang bersifat inovatif, masa kini, dan bukan tradisional. Karya tersebut dilindungi karena mempunyai nilai seni, baik dalam kaitannya dengan gambar, corak, maupun komposisi warna.

 Dengan adanya perubahan perlindungan hak cipta karya seni batik pada hukum hak cipta kita dalam waktu dekat ini, maka motif batik kontemporer inovatif, modern (masa kini), dan bukan tradisional yang akan mendapatkan perlindungan hak cipta!

 Tapi saya lalu jadi bertanya sendiri.

  1. Kenapa harus dibatasi bukan tradisional?
  2. Apakah karena sudah merasa “aman” dengan diakuinya BATIK INDONESIA sebagai salah satu yang terdaftar dalam UNESCO Intangible Culture Heritage? Ini kan hanya soal motif.
  3. Kenapa hanya soal motif saja dilarang? Bukankah asal-usul Batik itu dari tradisional?
  4. Apa kriteria kontemporer, inovatif, dan masa kini itu?
  5. Apa kriteria tradisional?

Perluasan motif batik yang diakui dalam hukum hak cipta memang memberi keleluasaan bagi industry kreatif untuk meningkatkan karya mereka, terutama para desainer. Akan tetapi, apakah perlu dibatasi sampai motif saja tidak boleh tradisional?

Ah, saya memang bawel. Dari kemarin saya protes terus soal RUU Hak Cipta yang baru disahkan ini. Tapi, memang begitu adanya. Saya tidak sepakat jika soal motif batik saja dibatasi tidak boleh tradisional, sementara kriteria tradisional tidak dijelaskan.

Bagaimana dengan anda? Apakah sepakat dengan bunyi pasal soal BATIK dalam RUU Hak Cipta yang baru disahkan DPR ini?

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>