“Berjalan di Atas Bara” – Hal 51 Tabloid Genie – Resensi Buku Perempuan Suarakan Hatimu!

**Dimuat di hlm. 51 Tabloid Genie, edisi 39 Tahun VII, terbit 15-21 April 2011, resensi oleh Gabriel**

YOU don’t have to be anti-man to be pro-woman. Untuk menjadi seorang pendukung perempuan dan segala gerakannya, anda tak harus membenci laki-laki. Demikian kata Jane Galvin Lewis, salah seorang tokoh feminis dari Amerika.

Refleksi kritis Jane Galvin Lewis itu sebetulnya bisa dibaca juga dengan cara yang lain. Jika perlu, anda boleh marah dan bersikap tegas terhadap perempuan jika perempuan itu tak mau bangkit dan maju. Jika perlu, anda boleh marah terhadap perempuan yang memuja “kebiasaan” tanpa pernah melangkah lebih ke depan untuk membuka horizon baru. Hanya dengan cara itu emansipasi dan gerakan feminisme dipahami secara benar. Jika tidak, anda akan berputar-putar dalam ekulibrium yang rumit dan penuh intrik.

Yang disuguhkan Risa Amrikasari aka Rose Heart dalam dan melalui bukunya yang berjudul “Perempuan, Suarakan Hatimu!” ini adalah interpretasi baru terhadap gagasan Jane Galvin Lewis di atas, lepas dari persoalan apakah Risa melahap gagasan atau mengenal Lewis atau tidak. Lima puluh nukilannya yang kritis dan tajam dalam bukunya ini meliuk-lampai di antara persoalan-persoalan yang umumnya dihadapi atau dialami kaum masing-masing kita, tapi luput dari refleksi kritis.

Persoalan, yang tampaknya sangat sederhana dan lumrah itu, ia angkat dan perkarakan dengan sangat kritis, tajam, dan lugas. Ia menggunakan metode pembalikan paradigma dan world view. Sehingga membaca nukilan-nukilannya ini tak ubahnya berjalan di atas bara. Kita akan kepanasan dan meleleh karena runtuhnya pra-anggapan dan segala bentuk apriori yang kita kira “biasa” dan “aman”.

Coba saja simak nukilannya yang berjudul “Kapan Nih Undangannya?” dan “Jangan Buat Mereka Harus Berbohong”. Di situ Risa membentangkan lagi “kamuflase psikologis” orang ketika bertemu dengan orang lain yang kebetulan masih sendiri atau belum punya anak. Pada umumnya orang akan tanya “Kapan kawin?” atau “Kapan kirim undangan?” atau “Sudah punya anak berapa?”

Rentetan pertanyaan itu tampaknya biasa sekali. Rentetan pertanyaan itu tak ubahnya “kata pengantar” dalam sebuah pertemuan atau perjumpaan. Saking biasanya, orang tak berpikir panjang untuk bertanya. Justru di sinilah letak masalahnya. Orang tak tahu apa-apa tentang konteks orang yang sedang ditanya. Dengan demikian, memberikan rentetan pertanyaan itu bisa jadi memperkusut konteks orang itu. “Bagaimana pun, rasanya memikirkan kembali apakah pertanyaan ‘iseng’ kita akan menambah beban orang lain rasanya lebih baik. Kesendirian mereka mungkin sudah merupakan beban tersendiri bagi mereka, kenapa kita harus menambah beban mereka dengan menanyakan sesuatu hanya karena kita tak mampu mencari bahan pembicaraan lain? (hlm. 22)”.

Sekali lagi Risa menebarkan bara dalam setiap halaman bukunya ini. Ia melemparkan cara berpikir lain, membentangkan sudut pandang lain, dan menghadirkan fokus baru. Fokus yang benar-benar menghormati orang lain secara pribadi. Sebuah fokus yang, sangat mungkin, selama ini terabaikan. Benar kata Emanuel Lewis, dalam bukunya yang berjudul Totality and Infinity, bahwa wajah orang menghadirkan tanggung jawab moral yang besar.

Penghargaan terhadap pribadi sebagai pribadi ini ia tuangkan dalam bab 6 dengan judul yang lucu tapi tajam. “Hello? Am I Invisible?” Di situ, kembali ia memperkarakan kebiasaan yang tak masuk akal: bertemu dengan orang lain tanpa mengindahkan kehadiran teman sendiri. Biasanya memang begitu. Ngobrol dengan orang lain, tapi tidak memperkenalkan atau mengajak ngobrol teman yang dibawa sejak tadi. “Meski tak mengerti apa yang dibicarakan, setidaknya kehadiran kita di situ dikesankan penting, bukan cuma sekedar seseorang yang kebetulan ditemukan di pinggir jalan dan dibiarkan terbengong menanti seperti orang bodoh… Kenyataannya masih banyak orang yang tidak tahu sopan santun seperti itu. Ada kesan meremehkan orang yang sedang berjalan bersamanya…(hlm. 50).”

Risa berhasil memancing dan mengangkat kesadaran kritis orang dengan gaya penulisan yang sederhana. Menceritakan, mendeskripsikan, dan menguraikan. Gaya bahasanya blak-blakan. Langsung. Tak berkelok-kelok dengan bumbu bahasa berlebihan.

Di beberapa bagian ia menutup nukilannya dengan kutipan indah dari orang-orang terkenal. Ia, misalnya, mengutip kata-kata bijak dari Soekardjan pada akhir nukilannya yang berjudul “Jika Memang Cinta…”, yang tak lain adalah cerita tentang cinta tulus ayahnya pada ibunya. “If you are a married man, have money, and want a beautiful woman, don’t spend it for other woman. They only love your money. Spend it for your wife, so she can make herself more beautiful” (hlm. 78). Di sinilah letak salah satu keunggulan buku berisi motivasi bagi para perempuan ini.

Lalu keseluruhan isi buku ini ia tutup dengan serangkaian kalimat bijak mulai dari hlm. 372 – 497. Kalimat-kalimat itu adalah Kristal-kristal perenungannya. “When you say you want to have an Organization but don’t know how to organize things – you should call that community as a ‘Disorganization’…(hlm. 385).”

Buku ini layak dibaca, tak hanya oleh perempuan, tetapi juga oleh laki-laki. Pantas menjadi referensi tambahan untuk mengaplikasikan ilmu psikologi terapan atau teori sosial-komunikatif. Sebuah bacaan yang ringan, namun cerdas dan berwibawa. Sebuah bara baru untuk menghargai hidup, orang lain, dan lingkungan. – GABRIEL

Untuk pembelian buku “Perempuan, Suarakan Hatimu!” silakan klik di sini.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>